Rabu, 19 Mei 2010

Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication

Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication
SWIFT adalah singkatan dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication beroperasi diseluruh dunia sebagai financial messaging network. melakukan pengiriman pesan transaksi atau perintah secara aman antar lembaga keuangan bank atau non-bank. SWIFT memberikan perlayanan program kepada lembaga-2 keuangan bank atau non-bank melalui jaringan yang disebut SWIFTNet, dan dalam ISO 9362 pengkodean lembaga-2 keuangan bank atau non-bank dikenal sebagai pengkodean "SWIFT" .
Jaringan SWIFT telah meliputi hampir keseluruhan bank didunia dan sampai dengan bulan Desember 2007 pranala SWIFT sudah mencapai 8,332 lembaga keuangan bank dan non-bank dari 208 negara.[1]
SWIFT adalah sebuah perusahaan Koperasi yang berada pada wilayah hukum negara Belgi dan status kepemilikannya dimiliki oleh para anggotanya secara penuh yaitu terdiri lembaga2 keuangan bank atau non-bank di seluruh dunia. SWIFT memiliki kantor hampir diseluruh dunia dan kantor pusat SWIFT berada di La Hulpe, Belgia, dekat Brussels.
SWIFT didirikan di Brussels pada tahun 1973, didukung oleh 239 lembaga keuangan bank atau non-bank di 15 negara. dimulai dengan pemberlakuan standar umum (lihat: standar SWIFT) untuk transaksi keuangan dan sistim proses data saham melalui jaringan berkomunikasi secara global.
Pusat Operasi
SWIFT beroperasi di Amerika Serikat sebagai data pusat. Ini adalah satu dari dua pusat penyaluran data informasi dilakukan secara ekfektif real-time untuk menghindari kemungkinan adanya perlayanan pleonasme.Templat:Huh Kedua data pusattersebut bergantian bertindak untuk dan melakukan pengambilan alih keadaan dimana dapat dilakukan antar kedua data pusat tersebut memiliki struktur kesiagaan penuh melalui rancangan jaringan struktur SWIFT.
interface SWIFT
Templat:Simplify SWIFT sebagai penyedia tinggal pakai bagi kebutuhan para anggotanya melalui fasilitas hubungan langsung antar anggota dengan melalui jaringan komputer SWIFT dan CBT atau computer based terminals dimana para anggotanya dapat melakukan pengaturan pengiriman dan penerimaan pesan-2 mereka. dibawah ini dikenal sebagai pelayanan CBT pada para anggotanya:
SWIFTNet Link (SNL)
SWIFTAlliance Access/Entry/RMA (SAA/SAE/SAR)
SWIFTAlliance Workstation (SAW)
SWIFTAlliance Gateway (SAG)
SWIFTAlliance Starter Set (SAS)
SWIFTAlliance Webstation (SAB)
SWIFTAlliance Messenger (SAM)
Interface adalah juga memberikan kepastian adanya perlayanan Biro Pelayanan SWIFT pada penyambungan ke SWIFTFIN.
IGTplus Interface berasal dari rekan usaha SWIFT dan perlayanan lainnya [2] memberikan perlayanan lain selain perlayanan yang telah diberikan oleh infrasstruktur SWIFT termasuk perlayanan aktraktif dan full back-up secara paripurna.
Perlayanan SWIFT
SWIFT mempunyai perlayan meliputi keberadaan Financial marketplace, Securities, Treasury & Derivatives, Trade Services and Payments & Cash Management.
Securities
SWIFTNet FIX (obsolete)
SWIFTNet Data Distribution
SWIFTNet Funds
Treasury & Derivatives
SWIFTNet Accord
SWIFTNet Affirmations
SWIFTNet CLS Third Party Service
Cash Management
SWIFTNet Bulk Payments
SWIFTNet Cash Reporting
SWIFTNet Exceptions and Investigations
Trade Services
SWIFTNet Trade Services Utility
SWIFT juga memberikan perlayan penyampaian pesan atar perorangan, SWIFTNet Mail, perlayanan ini dimulai pada 16 May 2007.[3] para pelanggan SWIFT bisa mendapatkan konfigurasi secara aman dan rahasia melalui jaringan SWIFTNet didalam Internet. SWIFTNet Mail diperuntukan melakukan pengiriman dokumen bisnis sensitif secara aman dan rahasia [4]
Jaringan SWIFTNet
SWIFT bekerja dengan jaringan infrasstruktur IP dikenal sebagai SWIFTNet.
Program pelacakan pendanaan terroris
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Terrorist Finance Tracking Program
Pernah menjadikan sebuah perdebatan berawal dari beberapa publikasi The New York Times, The Wall Street Journal and The Los Angeles Times mengungkapkan bahwa Treasury Department dan CIA, agen rahasia pemerintahan Amerika Serikat, setelah terjadinya serangan 11 September pernah melakukan pemasukan ke dalam sumber data transaksi SWIFT kebijakan ini dinamakannya Program pelacakan pendanaan terroris.[5] setelah publikasi tersebut SWIFT secara keras medapatkan penekanan karena pengungkapan data-2 sensitif kerahasiaan pelanggannya, [6] Pada bulan September 2006 pemerintahan Belgia akhirnya mengakui adanya persengkokolan antara SWIFT dengan kewenangan Amerika Serikat.[7]
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki

Sinema digital

Sinema digital
Sinema digital merujuk pada penggunaan teknologi digital untuk mendistribusikan dan menayangkan gambar bergerak. Sebuah film dapat didistribusikan lewat perangkat keras, piringan optik atau satelit serta ditayangkan menggunakan proyektor digital alih-alih proyektor film konvensional. Sinema digital berbeda dari HDTV atau televisi high definition. Sinema digital tidak bergantung pada penggunaan televisi atau standar HDTV, aspek rasio atau peringkat bingkai. Proyektor digital yang memiliki resolusi 2K mulai disebarkan pada tahun 2005, dan sejak tahun 2006 jangkauannya telah diakselerasi.
sinema digital dapat dibuat dengan media video yang untuk penayangannya dilakukan transfer dari format 35 milimeter (mm) ke format high definition (HD). Proses transfer ke format HD melalui proses cetak yang disebut dengan proses blow up. Setelah menjadi format HD, penayangan film dilakukan dari satu tempat saja, dan dioperasikan ke bioskop lain dengan menggunakan satelit, sehingga tidak perlu dilakukan salinan film. Contohnya, dari satu bioskop di Jakarta, film dapat dioperasikan atau diputar ke bioskop-bioskop di daerah melalui satelit.
Perbedaan sinema digital
Sinema digital hanya berbeda dengan sinema konvensional dalam hal visualisasi dan suara. Visualisasi sinema digital berbentuk garis-garis, sementara sinema konvensional yang menggunakan media pita seluloid, memiliki struktur visualisasi berupa titik-titik. Untuk kualitas suara, sinema digital hanya dapat memberi kualitas suara stereo. Sementara sinema konvensional, memiliki kualitas suara dolby surround.
Kamera untuk sinema digital
Pada tahun 2007, medium pengalihan paling umum bagi fitur yang ditayangkan secara digital adalah pita film 35 mm yang dipindai dan diproses pada resolusi 2K (2048×1080) atau 4K (4096×2160) lewat penengah digital. Kebanyakan fitur digital saat ini sudah bisa merekam pada resolusi 1920x1080 menggunakan kamera seperti Sony CineAlta, Panavision Genesis atau Thomson Viper. Kamera-kamera baru seperti Arriflex D-20 dapat menangkap gambar dengan resolusi 2K, dan kamera bernama Red One keluaran perusahaan Red Digital Cinema Camera Company dapat merekam dengan resolusi 4K. Penggunaan proyeksi 2K pada sinema digital telah mencapai lebih dari 98 persen. Baru-baru ini perusahaan Dalsa Corporations Origin mengembangkan kamera yang dapat merekam dengan resolusi 4K RAW. Selain itu, ada jenis kamera lain yang dapat merekam dengan resolusi 5K RAW seperti RED EPIC. Ada juga kamera yang dapat merekam dengan resolusi 3K RAW (untuk menyesuaikan dengan anggaran pembuat film ) seperti RED SCARLET
Proyektor sinema digital
Untuk menayangkan sinema digital, diperlukan proyektor yang berbeda dengan proyektor untuk menayangkan sinema konvensional. Terdapat dua jenis proyektor yang dapat digunakan untuk menayangkan sinema digital, yaitu proyektor DLP dan DCI. Proyektor DLP memiliki resolusi 1280×1024 atau setara dengan 1.3 megapiksel. Sedangkan proyektor DCI memiliki dua jenis spesifikasi, yaitu 2K (2048×1080) atau setara 2.2 MP pada 24 atau 48 bingkai dan 4K (4096×2160) atau setara dengan 8.85 MP pada 24 bingkai per detik. Proyektor DLP dikembangkan oleh perusahaan Texas Instrument. Ada tiga pabrik yang telah memiliki lisensi untuk memproduksi teknologi sinema DLP yaitu Christie Digital Systems, Barco, dan NEC. Christie, yang telah lama berdiri sebagai pabrik teknologi proyektor sinema konvensional, adalah pembuat proyektor CP2000—bentuk dasar proyektor yang paling banyak tersebar secara global (total kira-kira 5,500 unit). Barco meluncurkan seri DLP dengan resolusi 2K yang masih kalah dengan proyektor sinema digital DCI. Barco juga merancang dan mengembangkan produk proyektor dengan tingkat visualisasi berbeda bagi pembuat film profesional. NEC memproduksi Starus NC2500S, NC1500C dan NC800C proyektor 2K bagi layar kecil, medium dan besar. NEC juga memproduksi sistem penyedia sinema digital Starus dan alat-alat lain untuk menghubungkan dengan computer, tape analog atau digital, penerima satelit, DVD dan lain-lain. Sementar NEC adalah pendatang baru dalam industri proyektor sinema digital, Christie adalah pemain utama dalam pasar Amerika Serikat. Sedangkan Barco memimpin pasar Eropa dan Asia. Ketika perusahaan Texas Instrument pertama kali memperkenalkan teknologi proyektor 2K, perusahaan proyeksi digital merancang dan menjual banyak unit proyektor sinema digital DLP. Ketika proyektor dengan resolusi melebihi proyektor 2K dikembangkan, pasar mulai menawarkan proyektor berbasis DLP bagi tujuan non-sinema. Pada januari 2009, lebih dari 6000 sistem sinema digital berbasis DLP dipasang di seluruh dunia, di mana sebanyak 80 persen berlokasi di Amerika utara.
Teknologi penayangan sinema digital lainnya dibuat oleh perusahaan Sony dan diberi label teknologi "SXRD" . Proyektor-proyektor SXRD seperti SRXR210 dan SRXR220, menawarkan resolusi 4096x2160 (4K) dan memiliki piksel empat kali lebih banyak dari pada proyektor 2K. Proyektor sinema digital Sony juga memiliki harga yang kompetitif dengan proyektor DLP 2 K yang memiliki resolusi lebih rendah (2048x1080 atau setara dengan 2.2 megapiksel).
Proses pasca-produksi sinema digital
Pada proses pasca produksi, negatif film pada kamera asli dipindai menjadi format digital pada pemindai resolusi tinggi. Dengan teknologi digital, data dari kamera gambar bergerak bisa diubah menjadi format berkas gambar yang enak untuk ditonton. Semua berkas gambar dapat dikoreksi agar cocok dengan daftar edit yang dibuat oleh editor film. Hasil akhir proses pasca produksi adalah penengah digital yang digunakan untuk memindahkan rekaman gambar bergerak pada film ke sinema digital. Semua suara, gambar, dan elemen data produksi yang telah dilengkapi dapat dipasang pada pusat distribusi sinema digital yang berisi semua material digital yang harus ditayangkan. Gambar dan suara kemudian dimampatkan dan dikemas dalam bentuk kemasan sinema digital (dalam bahasa inggris: Digital Cinema Package atau DCP.
Keuntungan ekonomi
Sebelum teknologi digital muncul dalam pembuatan sinema, sinema harus dibuat dengan pita seluloid yang harganya amat mahal. Pita seluloid 35 mm satu rollnya berharga empat juta dan hanya mampu merekam sepanjang empat menit. Berarti untuk membuat sinema berdurasi 100 menit dibutuhkan dana sekitar 25 juta rupiah. Itu hanya untuk merekam gambar dan belum untuk mengedit dan memperbanyak gambar. Pada sinema seluloid, sinema harus melalui proses printing dan blow up yang bisa menghabiskan dana minimal 233 juta rupiah. Sedangkan biaya untuk membuat kopi sinema adalah 10 juta rupiah. Padahal untuk diputar di bioskop di seluruh Indonesia, sebuah sinema minimal harus memiliki 25 kopi. Artinya produser harus menyediakan dana 250 juta rupiah.
Dengan menggunakan teknologi digital, biaya pembuatan sinema menjadi amat murah. Sinema digital dapat dibuat dengan menggunakan kamera Betacam SP yang kasetnya berharga 110 ribu rupiah dengan kemampuan merekam hingga 30 menit. Sinema digital juga bisa dibuat dengan Digital Video atau Digital Beta yang lebih murah lagi. Dengan biaya 400 ribu rupiah, Digital video mampu merekam gambar hingga 180 menit. Dibandingkan dengan sinema seluloid, pembuatan sinema dengan teknologi digital bisa menekan biaya hingga 500 juta rupiah. Karena sinema digital tidak perlu melalui proses printing atau blow up. Dengan menggunakan sinema digital, hanya diperlukan biaya untuk proses encoding sebesar 5 juta rupiah. Oleh karena itu, bagi para produser, sinema digital merupakan teknologi yang sangat murah. Teknologi ini dapat dijadikan alternatif untuk para pembuat film yang ingin berkarya dengan biaya seminim mungkin.
Penayangan sinema digital
Walau sinema digital memiliki keuntungan dalam tahap produksi dan pascaproduksi namun penayangannya masih menjadi hambatan. Sebagian besar bioskop di Indonesia hanya memiliki alat untuk memutar sinema seluloid. Satunya-satunya cara agar sinema digital bisa diputar di bioskop hanyalah dengan mencetaknya kembali dalam pita seluloid. Sedangkan tidak semua sinema digital yang berformat video bisa ditransfer menjadi seluloid karena standar video adalah 625 garis atau 525 garis. Sedangkan, kualitas imaji seluloid 35 mm setara dengan 2.500 garis. Jadi kalau dari video digital ditransfer ke seluloid, hasilnya akan jauh dari memuaskan. Di Indonesia untuk saat ini hanya Blitzmegaplex yang mempunyai peralatan yang mampu menayangkan film dengan format digital.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki

Free CursorsMyspace LayoutsMyspace Comments
print this page